Tanah Palestina Yg Makin Panas
Palestina makin panas dalam beberapa hari ini. Ketika artikel ini ditulis, jumlah orang yang mati akibat pemboman Israel telah mencapai 400 orang. Termasuk di dalamnya Nizar Rajan (49 tahun), seorang Guru Besar Hukum Islam dan satu dari lima pemimpin tertinggi Partai Hamas. Rumahnya di Jebalija dibombardir oleh pesawat pembom Israel. Mengenai Nizar ini, ia dikenal sebagai matarantai penghubung antara sayap militer dan sayap politik di dalam Partai Hamas. Pada tahun 2001 yang lalu ia merelakan seorang putranya menjadi bom bunuh diri. Pada waktu itu dua orang tentara Israel menjadi korban. Kita sangat menyesalkan bahwa kekerasan makin menjadi-jadi dengan korban begitu besar di tempat yang mestinya memancarkan cahaya perdamaian. Baru saja Natal dirayakan, dan tanpa Palestina di mana kota Betlehem terdapat di dalamnya sulit kita memahami makna perayaan itu. Kelihatannya dampak perayaan Natal hampir tidak terlihat di sini.
Sesungguhnya perseteruan Israel-Palestina (dan negara-negara Arab) telah mempunyai sejarah yang sangat panjang. Kita semua telah memakluminya. Ia melibatkan berbagai hal, termasuk emosi keagamaan kendati sangat jelas bahwa ini bukanlah persoalan agama. Sekian banyak perundingan-perundingan telah dilakukan, dan sekian banyak pula persetujuan disepakati. Namun perdamaian sejati tidak kunjung tiba. Seakan-akan kita menghadapi benang kusut yang mustahil untuk diurai. Akan halnya pemboman mutakhir ini, oleh pihak Israel dimaknakan sebagai pembalasan terhadap roket-roket yang setiap hari ditembakkan ke Israel Selatan. Konon, dengan berakhirnya Perjanjian Gencatan Senjata beberapa waktu lalu, dan tidak adanya kesediaan untuk memperpanjangnya, maka sejak itulah sekian banyak roket ditembakkan. Lalu menyusullah saling tuduh-menuduh. Hamas berpendapat, memperpanjang gencatan senjata adalah sia-sia sebab selama ini Israel tidak pernah memperlunak pengepungannya atas Gaza. Sebaliknya dalam mata Israel, perpanjangan gencatan senjata justru akan dipakai Hamas memperkuat dirinya menyerang Israel. Repot memang. Kita tahu bahwa beberapa hari sebelum Israel memborbadir Gaza, Tzipi Livni Menlu Israel
berkunjung ke Mesir atas undangan Presiden Husni Mubarak. Kita tidak tahu persis detail percakapan antara mereka. Belakangan kita tahu bahwa Presiden Mesir itu kecewa dengan Hamas yang katanya tidak mendukung percakapan-percakapan perdamaian yang diprakarsainya. Ketika Husni Mubarak dituduh tidak membuka pintu gerbang ke Mesir agar rakyat Gaza bisa menyeberang pada waktu Gaza dibombardir, demikian menurut BBC, ia membela diri dengan mengatakan, ia lebih mementingkan kepentingan nasionalnya. Menyiasati semua perkembangan-perkembangan ini, rasanya bagi kita yang mengamati dari jauh cukup sulit untuk mengetahui secara persis apa yang sedang terjadi.
Read more…
Comments