Israel Sebagai Umat Pilihan Allah
Israel sekarang ini tidak sama dengan UMAT PILIHAN dalam Perjanjian Lama.
Sahabat – sahabatku,…
Beta baru mulai membuka milis lagi. Kebetulan sekali ada pertanyaan dari kawan kita : Pendeta Daniel Tataung, seperti yang beta lansir di bawah ini :
From : Daniel Tataung
Subject : Israel sebagai umat Pilihan
To : lionzimba@yahoo.com
Date : Friday, January 9, 2009, 6:12 PM
Selamat tahun baru Kapten.
Aku mau tanya, apakah Israel sebagai umat pilihan dalam PL tetap berlaku bagi Israel yang saat ini sedang perang di Palestina ? Menurut beta pung pendapat, pertanyaan tersebut berlatar belakangkan hangatnya masalah invansi militer Israel atas wilayah Palestina yang dikuasai Hamas : Gaza. Beta seng tahu apakah Bung Daniel cenderung memihak Israel atau Palestina – Hamas, atau Gol-Put. Hal ini tidak lepas dari kacamata keagamaan. Akan tetapi, beta sekedar mengingatkan, bahwa Invasi Militer Israel atas ‘kenakalan’ Hamas – Palestina tidak boleh dicampur adukkan dengan urusan keagamaan. Sebab mencampur adukkan agama dengan politik dapat mengakibatkan bencana yang jauh lebih dahsyat dari perang.
ISRAEL SEKARANG BUKAN SAMA PERSIS (adequate) DENGAN ISRAEL MASA PL.
Langsung saja beta menjawab pertanyaan Bung Daniel : TIDAK SAMA. Beta bertolak dari dasar pemahaman seperti begini :
1. Israel masa PL, meskipun ia memahami dan mengakui diri selaku UMAT PILIHAN, namun bukan seluruh warganya adalah keturunan Yakub (berasal dari 12 anak Yakub). Sejarah pembebasan Israel dari Mesir menunjukkan, bahwa ada beberapa orang asing (yang bukan berasal dari keturunan Yakub) berpartisipasi ke dalam kelompok eksudus itu. Bukankah Ibu Angkat Musa (Putri Firaun) berada di dalam rombongan itu ? Bukankah pelacur dari tembok kota Yerikho pun bergabung di sana ? Jadi Israel ( sebagai keturunan langsung dari Yakub ) yang eksodus dari Mesir bukanlah murni keturunan Yakub.
2. Sejarah bangsa – bangsa Timur Tengah Kuno mencatat, bahwa kelompok orang – orang yang bermigrasi dari Mesir ke Kanaan / Palestina itu disebut APIRU / ABIRU / IBRI / IBRANI yang berarti : kaum budak belian. Kemungkinan besar, kelompok terbesar yang menjadi inti dari orang – orang IBRANI itu adalah suku – suku keturunan Yakub. Mereka merupakan suku dominan.
3. Kelompok suku – suku ini mempunyai sistem religi yang cukup kuat berakar pada tradisi leluhurnya, seperti : tradisi Abraham, Ishak dan Yakub. Ketika kelompok ini mengambil alih kepemimpinan atas budak belian yang keluar dari Mesir, bukan tidak mustahil, mereka memaksakan sistem religinya untuk diterima dan dipraktikkan oleh partisipan eksodus lain.
4. Sistem religi itulah yang mengikatkan semua suku – suku budak belian (Ibrani) menjadi satu persekutuan, dengan menyebut dirinya : “umat yang atasnya nama TUHAN diserukan”. Lama kelamaan tradisi keagamaan menjadi cara hidup (way of life) dari masyarakat budak belian ( Ibrani ). Perkembangan gagasan tentang umat pilihan lebih menonjol pada masa kerajaan, terutama pada zaman Daud dan Salomo. Teologi nasionalisme Israel (yang ditemukan pada Kitab Mazmur) amat menekankan hal ini. Di dalamnya gagasan nasionalisme dicangkokkan pada batang religi. Hal semacam itu sudah bias berlaku pada agama – agama dari bangsa-bangsa Timur Tengah Kuno.
5. Gagasan umat pilihan yang disempitkan dalam pemahaman politis tentang nasionalisme yang sempit ditentang keras oleh Nabi Yeremia (Yer. 7 : 2 – 4 — “Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN! Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN…). Malahan Amos menyamakan kedudukan Israel di mata TUHAN sejajar dengan orang Palestina / Filistin dan orang Etiopia, orang Aram (Amos 9 : 7 —- “Bukankah kamu sama seperti orang Etiopia bagi-Ku, hai orang Israel?” demikianlah firman TUHAN. “Bukankah Aku telah menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir, orang Filistin dari Kaftor, dan
orang Aram dari Kir ? “). Jadi apakah hak istimewa Israel (priveledge) di hadapan TUHAN ? Apakah hak istimewa itu menjaminkan, bahwa Israel dapat bertindak sewenang – wenang di luar ketentuan – ketentuan ilahi ( misphatim Elohim ) ? Nabi Mikha menegur Israel dengan mengatakan : “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu ? “ (6:8).Kritikan Amos jauh lebih dahsyat lagi : “Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” ( 5 : 23 – 24 ). Jadi Allah tidak memilih Israel dan menjadikannya sebuah bangsa dalam artian geo-politis; melainkan menjadi umat yang menghadirkan diri ke dalam dunia, agar berkat Abraham dapat mencapai persekutuan
bangsa-bangsa ( Kejadian 12 : 3 ).
7. UMAT PILIHAN, sebagaimana yang ditafsirkan negarawan Kerajaan Israel pada masa Perjanjian Lama dan rabi – rabi masa pra sampai masa Yesus, sesungguhnya cocok dengan situasi-kondisi politik bangsa-bangsa pada waktu itu, akan tetapi sesuai dengan keyakinan Kristen, hal seperti itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sebab sama seperti manusia membangun Menara Babel, demikian pun raja-raja membangun Kerajaan Israel. Padahal yang dimaksudkan TUHAN adalah : Israel ditugaskan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Ia tidak ditugaskan untuk menjadi sebuah persekutuan umat Allah yang bersifat ekslusif (tertutup), melainkan inklusif (terbuka), serta yang membuat dirinya menjadi saluran berkat Abraham kepada bangsa-bangsa.
8. Pemahaman seperti ini pun terdapat di dalam perkembangan gagasan Yesus tentang misi-Nya kepada Israel dan bangsa-bangsa (menurut kesaksian Injil Sinoptis).
9. Memang Rasul Paulus masih tetap mempertahankan status Israel (PL) sebagai UMAT PILIHAN ALLAH. Hal itu dijelaskannya dalam teologi Surat Roma : antara Sara sebagai simbol umat TUHAN (am YHWH, laou tou Theou) dan Hagar sebagai simbol bangsa-bangsa (goyim, panta ta ethna). Namun dasar pemahaman Paulus tidak sama seperti yang terdapat di dalam Perjanjian Lama. Ia meletakkan dasar baru bagi suatu umat perjanjian baru, suatu Israel yang baru, menurut ukuran Kristus. Terasa sekali, bahwa Paulus mempengaruhi para teologi kristen dalam hal mengembangkan makna UMAT PILIHAN terkait dengan iman kepada Yesus Kristus.
10. Dengan demikian, untuk sementara, beta ingin menegaskan pemahaman beta : bahwa sudah sejak dahulu, makna kata umat pilihan Allah itu tidak dikaitkan semata-mata pada israel, melainkan terbuka kepada semua bangsa yang melakukan kehendak Allah. Kebetulan saja Israel memahami dan mengakui diri dipilih, namun tokh kata UMAT PILIHAN itu harus dikaitkan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan misi Allah sejak sebelum dunia diciptakan.
11. Israel yang sekarang ini bukanlah UMAT PILIHAN ALLAH. Hal ini membutuhkan penjelasan lebih detail.
Salam hormat,
Kapten Muslim
Comments